Sabtu, 25 Mei 2013

Masjid dan Kehadiran Islam


Mesjid adalah lambang dimulainya dakwah, tempat dipeliharanya dakwah dan wahana mengukur keberhasilan dakwah. Sedangkan dakwah adalah nadi Islam. Jadi masjid adalah represetasi fisik kehadiran cahaya Islam di suatu petak bumi Allah ini.  Ketika hijrah, Rasulullah mula-mula mendirikan Masjid Quba, lalu di Madinah beliau memulai dakwah dengan mendirikan Masjid Nabawi. Mesjid ini terus menjadi simbol kehadiran Islam. Bahkan setelah berabad-abad kemudian pusat kekuasaan politis umat Islam berpindah ke Istanbul Turki, para Sultan Utsmaniyah tetap sangat memerhatikan Masjid tersebut. Ketika lampu elektrik pertama kali ada, Kesultanan langsung memasang instalasi lampu listrik di Masjid Nabawi, padahal di istana Kesultanan nan megah di Istanbul sendiri belum ada lampu satu pun.  
Di India, ada masjid bernama masjid Quwwatul Islam, didirikan di dalam Kompleks Quthb, sebuah kompleks yang didirkan oleh Quthbuddin Aybek salah satu penakluk Delhi dari tangan penguasa lokal. Konon Quthbuddin menghancurkan 27 kuil-kuil Jain dan Hindu lalu sisa-sisa runtuhannya dijadikan material untuk membangun masjid Quwwatul Islam (Kekuatan Islam), mungkin sebagai simbol diambil alihnya tanah Delhi dari tangan kaum Jain dan Hindu, sebuah iconoclasme ; perendahan terhadap icon sebuah kepercayaan yang dikalahkan untuk tujuan politis atau motivasi religius. Sebenarnya iconoclasme adalah sesuatu yang sering terjadi di tempat-tempat yang sejarahnya dipenuhi dinamika bangkit dan ditaklukannya sebuah peradaban berbasis iman, selain adaptasi icon tentu saja. Misalnya apa yang terjadi pada percaturan pagan dan Keristenan atau antara Kristen dan Islam di daerah Levant atau Spanyol.
Namun, apakah penghancuran rumah ibadah mereka yang ditaklukan dibenarkan dalam Islam? ternyata tidak demikian. Dalam salah satu hadis yang diriwayatkan Imam Muslm, Rasulullah melarang pasukannya untuk membunuh orang-orang lemah, wanita, lansia, anak-anak, dan jangan sekali-kali jangan membunuh mereka yang ada di rumah ibadahnya. Saya kira para pendeta pemelihara kuil lebih suka mati daripada kuilnya dirobohkan. Lagipula tidak pernah ada riwayat Rasulullah menghancurkan rumah ibadah. Peristiwa penghancuran berhala di Kakbah? Pertama, Rasulullah tidak menghancurkan sebuah kuil, tidak ada kuil di sana. Kedua, Kakbah sejak awal adalah masjid yang diisi berhala. Rasullah hanya “membersihkan” Masjid al-Haram. Yah, karena masjid adalah simbol kehadiran tauhid maka Rasulullah pun membersihkan pusat tauhid dunia itu dari 360 batu yang membelenggu akal manusia.
Di salah satu petak bumi yang diterpa cahaya tauhid berdirilah masjid Menara Kudus di kota Kudus, Indonesia. Masjid itu didirikan oleh seorang ulama, Sunan Kudus. Dalam berdakwah Sunan Kudus dikenal sangat respek terhadap kebiasaan masyarkat sekitar, meskipun kebiasaan-kebiasaan itu jelas-jelas adalah hasil dari tradisi Hindu, yang menurut saya selama kebiasaan itu tidak berkaitan dengan akidah. Misalnya beliau menganjurkan untuk tidak memakan daging sapi, yah masalah makan daging sapi bukanlah pokok agama. Begitu pula dengan masjid Kudus, beliau membangun menaranya dengan mengadaptasi bentuk arsitektur Jawa-Hindu, sesuatu yang mungkin saja membautnya serupa dengan candi.  Ada pula masjid Demak yang gaya arsitekturnya juga mengadaptasi gaya Jawa-Hindu tapi falsafah dan fungsinya tetap sangat Islam. Arsitek kepala pembangunan masjid Demak juga adalah seorang arsitek Majapahit yang menganut Hindu.
Bandingkanlah kasus masjid Quwwatul Islam dengan mesjid Menara Kudus dan Demak. Yang pertama, Jendral Quthbuddin menghancurkan rumah ibadah lain dan dari puingnya (dalam arti sebenarnya) beliau membangun mesjid, diberi nama Quwwatul Islam. Kehadiran masjid yang jadi representasi Islam menjadi sangat terasa nuansa penaklukan militeristiknya. Muslim hadir di India memang tidak bisa dilepskan dari ciri mereka yang memang para jendral muslim penakluk yang kemudian saling memerangi. Mughal nan megah itu didirikan oleh penakluk yang paling kuat, Babur cucu muslim Jengis Khan.  Sedangkan yang kedua, Menara Kudus oleh Sunan Kudus, mesjid sebagai representasi Islam hadir sebagai sahabat orang Jawa. Ia hanya melepaskan mereka dari belengngu syirik. Syirik adanya di hati, bukan di bangunan, atau budaya apapun. Mesjid-mesjid itu didirikan oleh para ulama yang juga kerap merangkap pedagang sukses dan bahkan dekat ke kalangan istana Majapahit sendiri.
Kita bukannya hendak mencari mana yang paling baik, siapa yang paling tepat metodenya, mesjid mana yang paling merepresentasikan kehadiran Islam. Saya menulis ini juga bukan untuk analisis sejarah, ah itu terlalu mewah. Namun marilah tengok apa yang kemudian terjadi di India. Ternyata ada dendam yang tetap diam-diam dipelihara oleh orang-orang taklukan itu. Ketika invasi penjajah Inggris akhirnya melumat Mughal yang telah melemah ternyata rakyatnya yang Hindu tidak pernah merasa bagian dari Dinasti Mughal, atau bahkan dari sebuah bangsa dimana di dalamnya ada manusia-manusia muslim dengan mesjid mereka. Orang-orang itu toh akhirnya lebih memilih pemisahan India-Pakistan, dan menganggap diri mereka pewaris Hindustan. Juga ada dendam terbakar dari sebagian kaum fundamentlisnya yang merusak masjid Babri, atau tindakan terror mereka terhadap penduduk muslim di beberapa daerah, seperti yang digambarkan dari realita di film Slumdog Millionare. Alhamdulillah, kita tidak menyaksikan hal serupa terjadi di Kudus, Demak, atau Bali.
Wallahu a’lam, :D   


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar